UN DAN MENTALITAS BANGSA

Mentalitas Bangsa Indonesia diakui atau tidak telah mangalami degradasi yang luar biasa. Dulu kita dapat membayangkan negara kita bak negeri Amarta yang dihuni para kesatria. Kesatria yang berdedikasi dalam membela kebenaran, kesatria yang berdedikasi membela rakyatnya/kawula, kesatria yang pantang mengumpul-ngumpulkan harta demi meraih kenikmatan dunia. Para kesatria tersebut bahkan rela bertapa menjauhi dunia untuk mendapatkan pusaka atau ilmu yang diharapkan mampu melindungi dan memakmurkan rakyatnya.

Kini bayang-bayang tersebut kian pudar dan timbul bayang-bayang baru yang kian kentara. Tersodor potret-potret kondisi negara kita dalam koran yang tampaknya lebih mirip negeri Astina yang dipimpin para kurawa. Sebuah negeri yang diatur seadanya, sebuah negeri yang diatur dengan otot, sebuah negeri yang diatur dengan suap menyuap dan sebagainya. Hampir dapat dipastikan sapa prakosa bakal mulya (siapa kuat bakal mulia).

Dapatkah pergeseran itu kita hambat atau mungkin kita balikkan ? Secara teoritik segala hal serba mungkin, termasuk membalikkan arah pergeseran tersebut. Hanya yang menjadi tanda tanya “siapakah yang bersedia bersusah payah membalikkan arah pergeseran tersebut ? PBB/orang asingkah? Pemerintahkah ? DPR-kah ? Atau kita semua ?”

Hampir dapat saya pastikan sebagian besar pembaca akan menjawab “Ya, kita semua kecuali PBB/orang asing!” Jika prediksi saya tidak meleset, betapa bangganya saya. Ternyata masih banyak orang yang merasa berkepentingan untuk membalikkan arah pergeseran tersebut.

Bagi pemerintah selaku penanggungjawab pendidikan, Ujian Nasional (UN) merupakan sarana untuk menakar kesungguhan dan bekal ilmu penerus bangsa yang akan mengemban tongkat estafeta kehidupan bangsa di masa yang akan datang. Hal ini hampir mirip bagaimana para dewa menakar kesungguhan para kesatria sebelum menurunkan wahyu makutha rama. Sebuah wahyu yang diidam-idamkan banyak orang. Wahyu itu sangat menggiurkan, sebab dengan wahyu tersebut seseorang akan dapat mengatur sebuah negara dengan apik, harmonis dan menenteramkan.

UN sebagai wahana standarisasi pemegang tongkat estafeta bangsa di masa yang akan datang harus kita dukung. Dengan UN kita dapat menakar penguasaan keilmuan anak-anak bangsa. Dengan UN kita dapat menakar kajujuran anak-anak bangsa. Dengan UN kita dapat menakar kekuatan batin anak-anak bangsa menghadapi badai stress dan pragmatisme. Dengan UN kita dapat menakar kemampuan anak-anak bangsa memahami sebuah realita.

Pada akhirnya penulis yakin, bahwa  UN merupakan salah satu langkah membalikkan pergeseran negatif bangsa kita. Dengan UN kita telah mengarahkan anak-anak bangsa untuk merebut kepemimpinan di negeri sendiri, di tingkat regional, maupun di tingkat internasional. Ingatkah kita kiprah Ir. Soekarno dengan Ganefo? Ingatkah kita kiprah Soeharto dengan Gerakan Non Blok dan Asean. Semoga memori indah terbut dapat kita raih kembali. (by. Darto, S.Pd.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: