MUNGKINKAH KORUPSI DIHAPUS?

fenomena suap dan korupsi terus menggurita di Tanah Air. Kita perlu khawatir dan waspada agar fenomena tersebut tidak membudaya. Bila fenomena korupsi dan suap sudah membudaya, kita harus bersiap-siap bahwa uang akan lebih berkuasa dari  pejabat. Undang-undang tidak lagi berlaku. Razia oleh penegak hukum hanyalah sandiwara. Pengadilan hanyalah sandiwara. Dan penjarapun hanya sebuah sandiwara.

Bagaimana tidak? Saat penegak hukum melakukan operasi memeriksa kelengkapan kendaraan bermotor dan dibalik surat kelengkapan diselipkan lembaran uang, maka pemeriksaaan tinggallah basa-basi. Dan kendaraanpun segera dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Saat jaksa membacakan tuntutan hukum dalam sidang di pengadilan, hanyalah sebuah sandiwara. Sebab sebelumnya telah ada negosiasi dengan terdakwa. Saat seorang hakim membacakan putusan pengadilan, hanyalah basa-basi. Sebab terpidana sudah dapat memperkirakan keputusan hakim dikarenakan telah ada tawar menawar sebelumnya. Bahkan penjarapun juga sekedar basa-basi. Seseorang yang berada di rumah dapat merasa kegerahan karena panasnya udara, tapi seorang hukuman tetap dapat merasakan sejuknya udara yang keluar dari sebuah mesin pendingin ruangan.

Lantas, bagaimana kita menghilangkan fenomena suap dan korupsi? Suap dan korupsi sebenarnya berawal dari pengangkatan seorang pejabat. Seharusnya seleksi terhadap seseorang untuk menduduki suatu jabatan tidak boleh terbuka. Saat tim seleksi menyeleksi kandidat pejabat, maka orang yang diseleksi tidak boleh tahu bahwa dirinya sedang diseleksi. Bahkan bila perlu identitas anggota tim seleksipun dirahasiakan. Dengan demikian tim seleksi dapat bekerja secara bebas dan obyektif. Demikian pula kandidat yang diseleksi. Karena tidak tahu bahwa dirinya diseleksi, maka dia tidak mempersiapkan jurus suap. Apa lagi kandidat tersebut tidak tahu kepada siapa harus memberikan suap.  Bahkan dalam dalam salah satu agama terdapat ketentuan bahwa seorang yang mengajukan diri untuk diangkat sebagai pejabat justru tidak boleh diangkat menjadi pejabat walaupun dia pandai dan cakap dalam bekerja. Dengan demikian pejabat yang diangkat tidak terinfeksi virus suap yang membahayakan.

Pejabat yang diangkat dan tidak terkontaminasi virus suap, dia akan bekerja dengan idealisme yang tinggi. Sehingga segala keputusannya didasarkan pada idealisme yang bersih. Tak tercemar dengan keinginan untuk mengembalikan uang suap dengan cara korupsi, menerima suap ataupun melakukan pungutan liar (pungli). Pejabat yang bersih tersebut suatu saat akan melaksanakan penerimaan pegawai dan melaksanakannya dengan bersih pula. Pegawai yang diterima secara bersih akan memiliki jiwa yang bersih pula. Hal ini berdapak pada bersihnya sang pegawai dalam menjalankan tugasnya.

Meskipun proses pengangkatan pejabat dan penerimaan pegawai dilakukan secara bersih, hal ini tidak berarti undang-undang yang mengatur masalah suap, korupsi dan nepostisme tidak dibutuhkan. Dari sekian banyak populasi pejabat atau pegawai secara statistik biasanya ada sekitar 25% yang melakukan penyimpangan negatif. Di sinilah undang-undang anti-suap, anti-korupsi dan anti-nepotisme berperan.

Namun demikian perlu kita sadari bahwa pengawasan hukum tetap mempunyai celah untuk dihindari. Celah tersebut biasanya dihindari melalui mark-up berupa pembuatan kuitansi palsu, SPJ palsu, pembuatan laporan palsu, pemerataan hasil korupsi/suap  dan sebagainya.

Oleh karena itu diperlukan pengawasan lain yang sifatnya kontinyu di sembarang tempat dan waktu. Pengawasan tersebut hanya dapat dilakukan melalui pembinaan keyakinan atau agama. Dengan demikian pembinaan agama tetap menduduki posisi penting dalam pembinaan pejabat/pegawai. (by. darto, S.Pd.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: