PLTN & EGOISME MASSA

Fenomena Penolakan PLTN

Awal rencana pembangunan PLTN di Jepara telah mendapatkan resistensi dan penolkan masyarakat Jepara. Penolakan tersebut memang bukan tanpa alasan. Bahaya radiasi nuklir merupakan alasan utama yang dikhawatirkan warga jepara. Warga tidak mungkin lupa terhadap bencana nuklir dengan meledaknya reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina. kesan warga tentang bahaya bencana nuklir kian menguat dengan terjadinya ledakan pada reaktor nuklir di Jepang akibat bencana tsunami.

Badan Tenaga AtomNasional (Batan) sebagai wadah para pakar nuklir Indonesia menyatakan bahwa resiko pembangunan reaktor nuklir tidaklah seserius apa yang dibayangkan warga Jepara. Apalagi PLTN yang akan dibangun di Jepara merupakan reaktor nuklir generasi terbaru. Penjelasan pakar nuklir Indonesia tersebut tampaknya tidak mampu mengubah image masyarakat akan bahaya nuklir. Masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa Jepang adalah negara perintis teknologi modern,sedangkan Indonesia hanyalah sebuah negara yang bisanya mengekor perkembangan teknologi dari luar. Kalau Jepang saja dibuat  panik oleh bencana nuklir, lantas apa yang tejadi jika bencana itu terjadi di Indonesia?

Mau listriknya tak mau pembangkitnya?

Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang padat, khususnya pulau Jawa. Kebutuhan tenaga listrik masyarakat terus meningkatluar biasa. Peningkatan tersebut akan makin cepat jika Indonesia memasuki era industri. Pada saat ini sebenarnya indonesia sudah mengalami kekurangan energi listrik. Terbukti jika ada gangguan pada salah satu pembangkit listrik, maka dengan terpaksan PLN melaksanakan pemadaman bergilir untuk menjaga ketersediaan listrik bagi masyarakat.

Jika sekarang saja telah mengalami  kekurangan energi listrik, lantas bagaimana tahun-tahun yang akan datang? Perlu kita sadari bahwa masyarakat indonesia selain jumlah penduduknya bertambah, taraf hidup masyarakatpun makin meningkat. Peningkatan taraf hidup akan berarti pula peningkatan kebutuhan energi listrik.  Rumah yang sebelumnya tidak menggunakan kipas angin, menjadi menggunakan kipas angin. Rumah yang semula tidak memiliki lemari es, menjadi memiliki lemari es. dan seterusnya.

mau tidak mau  perlu kita sadari bahwa kebutuhan listrik makin bertambah tanpa bisa dihentikan. Saat lampu padam karena pemadaman bergilir, kita mengeluh, protes bahkan demo mengkritik kinerja PLN sebagai satu-satunya operator listrik di Indonesia. Saat PLN akan membangun pembangkit listrik baru dengan bahan bakar minyak yang mahal, lalu PLN hendak menaikkan harga listrik,maka protes dan demo marak dimana-mana. Saat PLN akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, maka masyarakat menolak karena faktor debu dan limbah pembakaran. Saat pemerintah hendak membangun bendungan yang dapat menghasilkan listrik, masyarakat protes karena tak mau digusur dan tak rela tanahnya terendam air bendungan. Sungguh ironis. Mau listriknya nggak mau pembangkitnya!

Mengapa PLTN?

PLTN merupakan terobosan tercepat untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. PLTN mampu menghasilkan energi listrik dalam jumlah besar dengan hanya menghabiskan lahan dan biaya operasional yang relatif kecil. PLTN telah didesain sedemikian rupa dengan tingkat pengamanan yang tidak terbayangkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal ini penulis ketahui saat penulis mengunjungi reaktor nuklir Siwabesi di Serpong Jawa Barat.

Energi nuklir ibarat binatas buas yang siap menerkam. Para pakar nuklir secara bersama-sama telah membuat desain kandang yang terus menerus disempurnakan. Secara teoritik kandang itu tidak mungkin dapat dijebol oleh energi nuklir, seperti seekor singa di kebun binatang yang tidak mampu menjebol kandangnya. Namun setelah sekian puluh tahun dari sekian banyak kandang singa ada juga singa yang sempat meloloskan diri dari kandangnya. Demikian pula dengan energi nuklir.

Antara resiko dan kebutuhan.

Tidak ada orang yang ingin tinggal di bawah tebing yang sewaktu-waktu longsor. Tidak ada orang yang mau tinggal di tepi sungai yang sewaktu-waktu banjir. Tidak ada orang yang ingin tinggal di tepi pantai yang sewaktu-waktu tersapu tsunami. Tapi lantas mau tinggal di mana? itulah tanah yang saya miliki. di situlah tempat saya mencari nafkah. Di situlah saya dilahirkan dn berbagai alasan lain. PLTN memang mengandung resiko, tapi listrik adalah kabutuhan.  Jika tak ingin mati janganlah pernah hidup. Jika tak ingin bangkrut, janganlah pernah kaya. Jika tak ingin kebakaran, janganlah pernah menyalakan api.

PLTN adalah sebuah solusi, walaupun memang mengandung resiko. Jika kita tak mau membantu PLN mendirikan pembangkit tenaga listrik, sepantasnya kita segera memotong kabel listrik PLN yang ada dirumah kita. Lalu kita mengusahakan kebutuhan listrik kita secara mandiri. Jika kita ingin tetap menggunakan listrik PLN mari kita bantu PLN mendirikan pembangkit tenaga listrik. Mudah-mudahan kita bisa menata ego demi kepentingan bangsa , negara dan masyarakat.

Satu Tanggapan

  1. gapapa bangun PLTN asal jangan didaerahku setidaknya 1555 km dari makassar, supaya kalau terjadi kebocoran radiasi dampaknya tidak sampai ke kami. http://hijab1.wordpress.com/2011/03/17/nasihat-buat-wanita-muslimah-yang-berhias-seronok/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: