ALASKA PALA

“XPDC NINI PELET”

CEREMAI MOUNT ON JUNE 2009

ALASKAPALA (ALAS KARET PENCINTA ALAM)

SMA NEGERI I CIPARI

By Oejang Oetomo, S.Pd.

XPDC “NINI PELET” adalah tajuk yang digagas oleh ALASKAPALA –Alas Karet Pencinta Alam – SMA Negeri I Cipari. XPDC ini merupakan pendakian pertama yang dilakukan oleh personil ALASKAPALA. Pendakian dilakukan oleh 4 anggota  dan 2 pembina. Anggota Alaskapala terdiri dari Saeful Rahman (Kelas X), Febri Warsono (XI IPS), Adi Suhendra (XI IPS) dan Alam Hari Setiawan (XII IPS). Pembina dipimpin oleh Ujang Utomo, S.Pd. dan pembina pendamping Basuki.

XPDC berangkat menggunakan kendaraan bermotor hari Selasa tanggal 23 Juni 2009 jam 09.00 WIB. Perjalanan dimulai dengan tujuan desa Palutungan, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Pintu pendakian yang dituju adalah pintu Palutungan. Terdapat beberapa pintu pendakian yang lain yaitu melewati pintu Desa Maja (Majalengka) dan pintu Apuy (Linggarjati, Cirebon). Pintu Palutungan merupakan pintu pendakian yang memiliki kerumitan sedang bila disbandingkan dengan Apuy dan Maja.

Tim XPDC sampai di Palutungan jam 13.00 dikarenakan ada insiden ban sepeda motor yang bocor di wilayah Cisaga, Banjar. Sebelum sampai ke Palutungan, tim sempat istirahat melepas lelah di sebuah waduk di kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan.

Selepas melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar (Jamak Takdim)  di Masjid Palutungan, tim XPDC membeli tiket pendakian dan berdiskusi dengan petugas pos pendakian. Beberapa minggu sebelumnya terjadi insiden hilangnya 7 pendaki asal bekasi dikarenakan tidak menggunakan rute pendakian yang telah ada. Ketujuh pendaki tersebut ditemukan tim Evakuasi dan tim SAR gunung Ceremai.

Tim XPDC berangkat menuju puncak jam 14.00 WIB. Perjalanan menuju pos I yang bernama CIGOWONG berjarak sekitar 4,2 Km dengan ketinggian 1450 mdpl (meter di atas permukaan laut). Jalan yang berliku dan banyaknya jalan di hutan pinus membuat perjalanan tim XPDC mengalami hambatan. Tim XPDC “tersesat”.

Sampai menjelang waktu Ashar tim baru menemukan jalan masuk menuju pos I setelah bertemu dengan warga setempat yang baru turun dari gunung. Setelah berjalan sekitar 3,5 jam, akhirnya tim XPDC sampai di Pos Cigowong menjelang Maghrib. Lelah, letih dan lesu mulai menjalar kepada setiap anggota tim, khususnya sang Pembina, pak Ujang…..He….he…wis tuwa ndeyan. Kesel tenaaaaan.

Akhirnya tim memutuskan untuk mengisi kekosongan perut dan mengganti kelelahan dengan makan dan memasak mie instant. CIGOWONG merupakan pos luas dan tempat para pendaki mengambil air untuk persiapan pendakian. Ceremai merupakan gunung yang hanya memiliki satu mata air yaitu di pos I ini.

Setelah menyelesaikan sholat Maghrib dan Isya, tim melanjutkan perjalanan. Senter dan lampu badai disiapkan karena kegelapan dan hawa dingin menyelimuti perjalanan. Perjalanan dalam kepekatan malam dan dinginnya suasana menjadikan tim XPDC khususnya maz bas menjadi kehilangan keyakinan diri. Beberapa kali pertanyaan dari tim tentang keberadaan pos II membuat tim XPDC merasa beratnya perjalanan. Hampir tidak menemukan jalan yang datar atau menurun….semuanya nanjak. Nanjak men….hoss…hosss…hoss…begitu nafas yang keluar dari pak Ujang. (Naik…..naik, ke puncak gunung, kesel ….kesel sekali….. banget)

Akhirnya….

Setelah beberapa jam pendakian, sampailah kami ke pos berikutnya yaitu pos PANGGUYANGAN BADAK. Secercah harapan bahwa jarak antar pos berkisar antara 1 – 2 jam perjanan. Pos ini memiliki ketingggian 1800 mdpl. (jarak tempuh dari pos I ke pos II sejauh 900 m,  ditempuh 1,5 jam/nanjake ngepool pokoke). Pada perjalanan ini pembinane ALASKAPALA mengalami kram paha hampir 5 kali. (sang paha tidak kuat menahan beban 85 kg ditambah tas punggung 10 kg dan dosa-dosa besar kali…..)

Pos III akhirnya terlewati juga. ARBAN nama posnya. Berada pada ketinggian 2050 mdpl. Jalan yang gelap dan hujan rintik-rintik mulai turun. Kaki pegal, bengkak, bahkan beberapa anggota tim sampai tidak sadar kehilangan barang-barang pribadi. Botol minum bos hilang tak tentu rimba, topi kesayangan Alam hilang, senter biru punya Bazuki juga raib entah kemana. Semua karena lelaaaaaaaaaaaah….tapi asyiiiiiiiiiiiiiik.

Pos III dinamakan TANJAKAN ASOY dengan ketinggian 2200 mdpl. Jangan tanya nanjak dan tingkat kesulitan jalannya. Pokoke asoooooy banget. Di tanjakan ini pak Ujang maksimal melangkah hanya 100 – 200 langkah. Setelah itu istirahat, ngopi dulu…hawanya dingin banget. Tim mengeluarkan perbekalan dan memasak air untuk membuat kopi kapalapi. Dalam suhu yang sangat dingin, air yang mendidih sepertinya tidak terasa oleh kami. Srupuuuuuuut, ueeeenak tenaaaaaaan. Alhamdulillah. (coba perhatikan gambarnya…. Ternyata celana panjang mas baz bolong, nggak tahan dingin).

Memasuki pos III (PESANGGRAHAN, 2450 mdpl) kondisi tim khususnya maz baz mulai ngantuk. Hampir di setiap tempat istirahat, maz baz menyempatkan tidur sekitar 10 s.d. 15 menit. Tim kembali membuat kopi untuk menghangatkan badan, hawa yang disertai gerimis menjadikan kami harus menambah jaket untuk melindungi tubuh dari kedinginan. Minum kopi….wahh dingin kembali  hawanya kalo dah selesai minum.

Setelah PESANGGRAHAN, perjalanan terasa lama dan panjang. Jalan setapak yang menanjak, dipenuhi dengan akar yang melintang di setiap tempat, hawa yang dingin dan waktu yang sudah beranjak subuh hampir membuat anggota tim putus asa….mana puncaknya? Kapan sampainya pak? Tanya mereka. Waktu sudah menunjukkan jam 4 subuh, tanda-tanda puncak masih jauh. Ooooooooh lelah, letih, lesu, letoy dan lunglai menghinggapi semua anggota tim. Tapi…ALASKAPALA punya slogan MENTAL BAJA…Jangan menyerah.

Jam 4.15 pagi kami putuskan untuk nge-CAMP di sebuah cerukan. Spanduk yang kami bawa kami bentangkan untuk menahan dingin yang hampir mencapai 5 derajat Celsius….uaadem tenan. Kami laksanakan shalat subuh dengan duduk…hawanya menusuk tulang. Luar biasa…….lelah tapi asyik. Kami sempatkan memasak mie instant dan energen untuk melepas lapar dan lelah. P Ujang  terlihat masuk angina dan mulai muntah dan batuk.

Hari menjelang pagi…..

Matahari sudah mulai memperlihatkan cahayanya kepada bumi Ceremai….

Wajah lelah itu mulai sumringah….

Kemegahan alam dan indahnya suasana….

Menjadikan kelelahan kami campakkan pada tong sampah….

Kami puas,

Pemandangan yang sangat indah..

Awan berarak di bawah kaki kami…

Terlihat deretan rumah-rumah di daerah kuningan, cirebon dan majalengka bagaikan titik merah yang sangat keciiiiil.

Oh…betapa hinanya orang yang menyombongkan diri….

Semangat yang membara menjadikan kami segera mempersiapkan diri pada pendakian terakhir. Puncak ceremai sudah terlihat. Terlihat dari kejauhan, beberapa pendaki telah sampai puncak….

Langkah kami percepat, meski kondisi tubuh mulai kembali rapuh…

Tapi semua itu akhirnya dapat kami lalui..puncak ceremai dengan ketinggian 3070 mdpl  akhirnya dapat kami taklukkan jam 07.12 WIB. Pak Ujang sujud sukur di puncak ceremai. Mas Baz tidak berani berjalan di pinggir kawah yang menyengat sekali bau belerangnya..mas baz merangkak……..

Di puncak ceremai kami beretemu dengan 4 pendaki asal SMA N 2 Kuningan. Mereka sedang memasak, tetapi gas LPG yang di

bawa tidak sama dengan tabung yang lama. Oooooh

Ternyata puncak ceremai membuat semua peserta mampu menghilangkan semua kelelahan…

Slamat pagi Indonesia…kusapa engkau lewat gunung tertinggi di Jawa Barat ini..

Assalaaamualaikum…kata yang harus diucapkan ketika sampai di puncak (kata petugas)

Gambar lainnya dapat diliha di = alaskapala.wordpress.com=

%d blogger menyukai ini: